Sabtu, 21 Mei 2011

Terapi Wicara Dan Telat Bicara

Apa saja yang dilakukan dalam terapi wicara? Anakku belum bisa bicara dan dianjurkan untuk mengikuti terapi oleh dokter
[IMG]http://vb.thakereen.com//artikel/wp-*******/uploads/2011/04/terapi-wicara.jpg[/IMG]Tanya:
Ibus yang pintar dan baik, aku mau tanya tentang terapi wicara untuk anak. Apa saja yang dilakukan dalam terapi itu, adakah kurikulumnya ?Anakku (3 th, 1 bulan) bicaranya belum jelas dan dianjurkan untuk mngikuti terapi. Kalau sempat hari ini aku mau bertemu dokter rehabilitasi medik. Tapi aku belum tahu apa yang kira-kira harus aku gali dari dokter itu. Tolong aku ya. Terima kasih. [St]
Jawab:
Anakku (19,5 bulan) sudah 1,5 bulan ini mengikuti terapi wicara di Klinik Pela, ditangani oleh 3 orang (dokter anak, psikolog dan dokter rehab). Dari penilaian mereka diputuskan anakku memerlukan terapi yaitu terapi wicara dan terapi okupasi (untuk konsentrasi). Anakku terapi 2 kali dalam seminggu. Menurut pengalamanku, si dokter yang akan banyak bertanya dan menggali informasi dari kita tentang anak kita sambil dia melakukan observasi. Berdasarkan informasi dari kita, dokter bisa lebih cermat melakukan penilaian.
Questions to Ask Speech and ******** Specialists
Questions to Ask Yourself
Is a speech and ******** specialist the appropriate expert to help with my child’s problems?
Will I be able to make the money and time commitments to work with a specialist outside of school?
Will the staff from my child’s school collaborate with the speech and ******** specialist?
Does my child work better in groups or individual settings?
Questions for the Specialist
What is your experience as a speech and ******** clinician?
What licenses and credentials do you hold that enable you to provide special ******** therapy?
What settings have you worked in (hospitals, schools, clinics)?
Do you work with children individually or in groups? If groups, how big are the groups? What is the age range? What is the focus of the groups?
Do you assess for expressive and receptive ********, as well as articulation skills?
What is the cost of an assessment? How long will it take? Will I receive a written report that explains the test results?
Do you develop a written plan with goals and objectives?
How long is each session? What is your fee structure?
How do you work with a child’s teacher and other involved professionals?
Can you provide references from current and former clients and colleagues?
What is your availability?
Review Questions
Were all my questions answered satisfactorily?
How does this speech and ******** specialist compare to others I’ve talked to?
Will my child get along with this specialist?
While SchwabLearning.org is pleased to present information and resources, it is our policy not to recommend or endorse any one specific individual, product, organization, or *** site. Because parents know their child best, they are the ones who determine the appropriateness of a school or provider ****d on a match of their childs needs, their own preferences, and the program or services offered. These questions are intended only as guidelines in the decision-making process.
http://schwablearning.org/articles.asp?r=79&g=2
Subject: Recent comments on Speech Therapy
Members have been commenting on their speech therapists and I’d like to comment. First, I taught Speech pathology for over 25 years (at Ohio State and Minnesota) and have written books and articles on therapy with minimally verbal children, and have been a therapist with over 1000 preverbal children. In my experience most training in speech therapy is with children who already talk but have some differences, such as voice problems, articulation, stuttering, syntax, literacy, or with adults with issues such as strokes, Alzheimer’s, voice, and other speech problems. Only recently has their training included much on the issue of what is needed before speech. And for many of our children, getting them ready before speech and getting them to have conversations are the two major issues. So, I ask you to be understanding of how much therapists can do. Many therapists also have little experience with children with conditions such as Down Syndrome, Autism, nonverbal communication, and other concerns of children who simply do not talk frequently. Consequently, many therapists simply do not have the successful experience seeing our children communicate as many of us on the list do. As I travel around doing workshops, I have met many speech therapist who are very interested in learning how to help our children. Often, while they do not have much training with preverbal children and their caseloads are difficult, many of them are willing to learn and help us. If you find such a therapist, feel free to download and print out the guides on our ***site, and share them with her then work together. We need to educate those therapists who are not familiar with how much our children can change. They often simply do not know what is possible but do want to help. If you are looking for a therapist to work with you, I can suggest a few guidelines:
1. Find one who realizes that you will inevitably be doing most of the work and so is willing to include you in the therapy as a partner.
2. Ask them what experience they have with your kind of child (age, diagnosis, communication level, special issues) and what successes they have had.
3. Ask them what they feel a child needs to do before speech?
4. Discover what limits they may expect for your child or for children with your child’s diagnosis. ( Unfortunately, many professionals do not have the success or experience with preverbal children nod ones with diagnoses such as Down syndrome, Autism, Motor disorders etc. and so do not understand how much our children can do. I have met many professionals who honestly believe things that we on this list know are not true; such as “If a child is not talking by 3 or 4 , she never will talk much”
“Signing is the best children with Down Syndrome can do”
“Children with autism cannot ever talk socially much.”
“You cannot expect a child with DS to have many more than a couple hundred words.”
” Be satisfied if your child can talk to get his needs met.”
” If you want too much , you may be in denial of your child’s limitations.”
“Be satisfied if your child can use a picture system for communicating in school.”
” Parents are not trained to help their children communicate and so they should leave the job to the professionals.”
“All a child needs is to play a lot with many children to learn to talk.”
5. Be sure they are willing to discuss with you your child’s goals and give you reasons for selecting them and include your goals as well.
6. Meet other parents who have been pleased with a therapist and get to understand how their child has changed during work with that therapist.
7. Do not assume that a child who rarely communicates is going to make major changes by getting one or two therapy sessions a week; realize that he is awake 100 hours a week and learning either to communicate or not to communicate during all that time with people.
8. Share the Communicating Partners materials with therapists and teachers so you can have partners in this big job of getting your child to communicate. [Hn]
Anakku baru sebulan ini mengikut terapi di Klinik Tumbuh Kembang RS Pondok Indah. Jadi belum banyak yang bisa digali. Si anak diajari untuk menurut dulu, sekalian adaptasi, baru kemudian pelan-pelan diajari untuk bicara. Itupun pengalaman ibu-ibu lain yang aku dengar. Sebelum dikirim untuk terapi, dokter akan banyak menginterview kita dan dia akan menilai juga tingkah laku anak. Lucunya waktu kebetulan anak si dokter juga sedang di sana jadi anakku main dengan anak dokter sehingga dokter bias melakukan observasi.Keputusannya hanya kurang stimulus saja. Jadi perlu dilatih secara intensif dengan terapi dan di rumah.
Tanya:
Mau tanya pendapat ibu semua. Anakku cowok, 21 bulan (akhir bulan ini 22). Belum bisa bicara sampai sekarang. Maksudnya, dia sudah mengeluarkan suara macam-macam, tapi belum ada yang berarti. Yang rada jelas paling mama, papa, emoh, kuda, gajah, pisang. Kalau mau sesuatu dia bisa menunjuk, atau mengeluarkan suara ‘mamamamamam’, atau menarik tangan orang yang di dekatnya. Kalau dikasih tahu sesuatu dia mengerti. Nah, karena adikku lagi ikut pendidikan spesialis anak, dia tanya ke dosennya. Terus sama dosennya itu disuruh bawa cepat-cepat ke tempat prakteknya. Di sana diobservasi, terus disuruh test BERA ke dokter THT. Dokter itu curiga, jangan-jangan salah satu penyebab anakku tidak bicara adalah karena kurang bisa dengar. Padahal aku sudah sering test di rumah, aku panggil pakai suara halus atau aku kasih tahu sesuatu pakai suara kecil, dia respon. Hanya saja dia memang kalau sudah konsen sama sesuatu, mau diteriaki atau mau digoyang-goyang badannya juga tidak merespon panggilan. Setelah test BERA, hasilnya telinga kanan baru respon setelah 50db, telinga kiri baru respon setelah 40 db. Hanya, kata dokter THT-nya, tidak perlu alat bantu dengar karena kemungkinan besar gangguan dengar ringan itu penyebabnya ada serumen sedikit dan anakku lagi pilek. Setelah hasilnya dibawa ke dokter yang dosennya adikku itu, terus anakku disuruh terapi wicara 2x seminggu. Akan mulai Kamis minggu ini. Aku ingin pendapat ibu sekalian. Menurut pengalaman ibu bagaimana? Sebenarnya perlu tidak anakku ikut terapi wicara? Orang-orang yang di sekitarku soalnya nadanya menyalahkan aku. Katanya aku terlalu khawatirlah, aku terlalu memaksakanlah. Ada juga yang bilang, kan anakku belum 2 tahun, buat apa pakai terapi gitu-gitu segala? Bagaimana ya ? Kasih pendapat ya perlu sekali [SKY]
Jawab:
Anakku yang kedua juga cowok, sekarang umur 3 tahun kurang 5 bulan. Ketika umur 2 tahunan anakku juga belum lancar bicara malah kalau disbanding anakmu yang umur 2 thn kurang sudah bisa bicara mama papa gajah pisang sudah jauh lebih bagus tu. Tadinya aku juga sempat khawatir kena autis. Aku juga rajin baca-baca buku tentang autis tapi kalau dilihat memang karena anaknya yang kurang terstimulasi untuk bicara soalnya dia tetap kelihatan merespon ke orang lain apalagi kalau ke papanya, eyang tung-nya atau sepupu-sepupunya yang cowok kelihatan anakku tuh senang sekali diajak main. Karena dirumah kalau pagi sepi (sepupu dan kakak-kakaknya sudah pada sekolah tiap hari) akhirnya dia aku ikutkan play group yang 2 thn-an. Sekitar 3 bulan-an Pasha sekolah tiba-tiba dia mengoceh macam-macam. Aku sekarang suka takjub saja soalnya dia sering sebut kata-kata yang baru. Dan sekarang jadinya bicara terus dan kalau dia belum puas sama jawabannya dia akan tanya terus, senang sekali. Kalau saranku mbak untuk anak laki-laki umur 2 tahun belum termasuk terlambat bicara tapi itu balik lagi ke feeling orang tua-nya. Setiap orang tua biasanya punya feeling tentang anaknya masing-masing apakah memang cuma terlambat bicara atau memang ada sesuatu. Mungkin ikut ke play group juga bagus buat dia bisa bersosialisasi dan menstimulasi bicaranya. Alhamdulillah guru di kelasnya anakku tuh sabaaar sekali dan memang orangnya ngemong ke anak-anak kecil. Sepertinya anakku dulu memang tipe anak yang agresif kalau didekati anak lain mungkin karena sebelumnya dia belum bisa bicara, tapi semenjak “sekolah” dia jadi bisa mengemukakan rasa tidak sukanya dengan marah, tanpa harus bertindak agresif ke anak lain [Gt]
Jawab:
Mbak, anakku 23 bualn juga agak telat bicaranya. Kepintaran anak seusianya sudah bisa ia lakukan bahkan sudah mengerti kalau disuruh-suruh. Sepanjang ini dia sudah bisa panggil mamah, papah, bapa, teteh, kaka, mamam dan beberapa kata pendek lainnya. Cuma untuk menyambung kata dia masih belum bisa. Terus terang aku khawatir sekali, dan sempat konsul ke Dsa-nya katanya tunggu sampai umur 2 tahun, tapi aku tidak sabar, jadi 2 minggu yang lalu aku bawa dia ke Klinik Terpadu Tumbuh Kembang Anak di Kramat Pela, kebayoran untuk diobservasi, alhamdulillah hasilnya: anakku cuma telat 3 bulan dari semestinya, alias masih dalam taraf normal, cuma saja ada kecenderungan “malas” bicara. Tapi perkembangan yang lainnya sudah setara dengan anak 23 bulan. Akhirnya anakku dijadwalkan terapi wicara 2 minggu sekali di sana. Dan sekarang sudah berjalan 2x pertemuan, alhamdulillah baik-baik saja. Jadi menurutku, keputusan mbak memasukkan ke terapi wicara sudah benar, daripada telat sama sekali? Aku cepat bertindak, karena lihat pengalaman anaknya temanku yang ikut terapi ini. Kalau kasusnya anaknya malah sempat dicurigai autis karena tidak ada kontak mata kalau diajak bicara, dan beberapa bulan setelah terapi sudah cerewet sekali! Sekarang malah sudah pintar sekali bicaranya! Sebelum aku ke klinik tersebut, sebenarnya juga ada pro & kontra, cuma dari pihak keluarga sangat mendukung dan beberapa kali aku baca artikel tentang anak yang telat bicara, jadilah aku cepat-cepat bertindak. Menurutku daripada dimasukkan ke PG sejenis tumbletots/gymbore, lebih baik kita “sekolahkan” ke terapi wicara supaya anaknya fokus dan tidak campur-campur sama bahasa asing. Aku & suami juga ada andil kesalahannya, yaitu membiarkan anakku nonton film seperti Telletubies yang berbahasa Inggris. Justru anak yang agak telat bicaranya jangan dibuat bingung dengan 2 bahasa dulu, kalau sudah lancar baru boleh, begitu kata guru/terapisnya.
Kalau metodenya anakku 1 guru = 1 murid, hari pertama masih boleh didampingi, hari kedua tidak boleh lagi didampingi, awalnya memang agak rewel cuma, akhirnya lumayan sukses, karena dia sudah bisa konsen ke gurunya. Di rumah juga kita harus mengulang-ulang yang sudah
diajarkan di sana supaya makin lancar. Tadinya aku mau mendaftarkan ke Klinik Tumbuh Kembang Anak yang di RS Harapan Kita, cuma antri untuk konsul saja sampai sebulan, akhirnya aku dirujuk ke Klinik Kramat Pela itu. Pokoknya mba tidak usah bingung-bingung, apa yang terbaik buat anak kita hanya kita, orang tuanya yang tahu Lagipula di sana suasananya juga menyenangkan, hitung-hitung sekolah privat saja [Wwd]
Pengalaman Mbak ini sama persis dengan pengalamanku dulu dengan anak pertama. Waktu itu orang-orang bilang begitu, tapi aku ikuti saja saran psikiater dan psikolog, daripada menyesal. Tidak apa-apa ikut terapi wicara. Yang aku lihat anakku jadi lebih bisa mengekspresikan keinginannya. Semakin dini tertangani kan semakin baik, karena umur emas kan 0-5 tahun, jadi kalau ketahuan pada umur-umur itu cepat bisa penyembuhannya [An]
Perkembangan bahasa pada anak berbeda-beda. Ada yang cepat ada yang lambat. Faktor-faktor yang mempengaruhi juga banyak. Tidak hanya berasal dari dalam diri anak (bawaan), tapi yang paling berpengaruh adalah lingkungan. Kasus anak lambat bicara kadang bukan sekedar ada gangguan perkembangan bahasa, tapi bisa juga karena kurangnya latihan. Karena perkembangan bahasa bukan sesuatu yang otomatis akan dikuasai oleh anak. Pada umur 2 tahun pada umumnya akan terjadi yang disebut “ledakan bahasa”. Dalam hal ini anak yang tampaknya tidak bisa bicara akan mulai menggunakan kalimat-kalimat pendek. Jadi kalau anak diam bukan berarti tidak bisa bicara. Karena aspek bicara meliputi kata-kata yang diucapkan dan pemahaman terhadap kata-kata itu. Kalau saya baca ceritanya mbak, tampak di situ kurangnya latihan. Jadi kalau anak mau sesuatu, dengan menunjuk barang yang diinginkan, orang di sekitarnya akan segera mengambilkan barang tersebut. Karena itu, anaknya jadi tidak terlatih untuk mengatakan dengan jelas apa yang diinginkannya. Masalah anaknya kalau lagi konsen sesuatu susah dipanggil, itu hal yang normal menurutku. Kalau dia sama sekali tidak bisa konsen malah kita yang mesti waspada. Menurutku, sebaiknya sebelum melakukan terapi bicara, Mbak bisa mencoba untuk melatih anaknya untuk mengungkapkan dengan artikulasi yang jelas (bukan dengan suara bayi) kata-kata yang ingin diucapkan. Misalnya, bila anak menunjuk gelas pertanda dia haus, tanyakan adek ingin apa? Minum ya? Kalau dia mengangguk, katakan, coba adek bilang mau minum dan diminta untuk mengulangi kata-kata tersebut. Latihan ini tentunya tidak bisa instan ya, harus dilakukan intensif dan juga komitmen dari orang-orang di sekitar. Jadi tidak hanya mbak dan suami yang melakukan, juga pembantu, nenek kakek, dan saudara-saudara lainnya. Kemudian coba pancing juga dengan nyanyian. Menyanyi adalah hal yang menyenangkan untuk mempelajari bahasa. Saran saya, bila mbak masih khawatir dengan perkembangan bicara anaknya, sebaiknya sebelum melakukan terapi, anaknya dibawa ke psikolog untuk pemeriksaan lebih lanjut sambil membawa tes BERA nya. Selain itu supaya kita bisa mengetahui apakah, gangguan bicara ini apakah memang disebabkan oleh faktor fisik (pendengaran) atau karena hal-hal yang bersifat psikologis. Tes psikologi ini bisa dilakukan pada saat anak berumur 2 tahun [AS]
When Will My Child Talk?
In my work with families for over 20 years, I have heard this question perhaps more than many others. Often parents wait for ******** as they would wait on a bus, sensing no control over when it comes. Unlike when a bus comes, the onset of ******** is usually something parents have influence to a very great extent.
When do children begin to talk a little? Under usual circumstances, we expect a child’s first words around 10-18 months. There is no set time table and many children begin much later and still develop good ******** for conversation and learning. And, a child may talk with some persons and not others. If a child is not using words to play and get needs met by age two, roughly, we want to look at how he is doing in those skills he needs before ********.
So another common question is, “What does a child need to do before she regularly talks and learns ******** on her own?”
After years of interviews with parents, I conclude that many parents believe that ******** just comes automatically like hair and ******, with no special help from families other than general care taking. While it is true that human beings do have a unique ability to talk as part of their genetic programming, ******** just doesn’t happen on it’s own; a child needs close contacts with people who do things she can do.
So, if you are concerned that your child may be slow to talk, I recommend that you do not expect that she is just going to grow into ******** without your help as she seems to grow into new clothes without specific help.
To develop a really useful ******** for friendship and learning, your child needs to get into several habits that we do not often think of as necessary to talk. Some of these habits are playing with people; playing meaningfully with things; imitating; turntaking; staying in interactions; communicating without words; genuinely enjoying contact with people and others.
Frequently, parents bring me children 3, 4, 5, 6, or years older, who either have not begun talking or talk mainly for themselves. These parents often feel they have done all the regular play and teaching that they gave their other children, and they conclude that something is wrong in the child.
Some very common parent reports happen over and over with many different kinds of children. “He didn’t play like other children.” “He pays little attention.” “He isn’t interested in new things.” “He repeats a lot of things.” “He gets what he needs by taking us there or making unclear sounds.” “He doesn’t enjoy close quiet time with people.” “He prefers to be alone.” “He often ignores people.” “He can’t seem to keep up with others.” All of these common comments by parents reveal a genuine concern, and often anxiety, that their child is not learning to talk.
So, what’s the answer to the question, “When will my child talk?” In my experience following the communication development of children in over 500 families, the answer is-When they develop certain kinds of relationships with people who enter their world and become partners with them at their pace.
I have encouraged many parents to stop expecting ******** to come “out of the blue”, and instead to look at themselves and the remarkable power they have to help their child to talk. A major goal of mine has been to teach parents what children need to do before ******** and, just as importantly, to teach them natural ways they can change themselves to help their child learn more with them.
For this short letter, I will ***** you to some very important things both you child and you can do regularly that have helped other children get ready to talk. Notice that when you read the list you may say two things; first, that he and you have done these things already. That may well be true, but at the time your child may not have been ready to make it a habit or not yet done it on a regular, steady basis. Second, you may say, those are baby things my child is a big girl now, and I don’t want to go back. My answer to that is that children of all ages can learn things they did not learn at earlier stages if they have enthusiastic partners to support and coach them.
With the list below, rate yourself and your child from 1-5, with 1 meaning never, 3 indicating occasionally, and 5 showing things you do consistently.
WHAT THE CHILD NEEDS TO DO
Play frequently with people
Play meaningfully with things
Imitate others’ actions and sounds
Take turns
Stay increasingly longer with people
Use gestures and sounds to communicate
Actively enjoy playing with people
Show interest in new things
WHAT YOU NEED TO DO
Play frequently as your child does
Match child’s actions and communications
Wait–give child time to do his part
Show child a next step
Take turns and keep child longer
Attend to little steps like sounds & gestures
Make play more fun than work
Expect your child to do more Dr. James MacDonald [AS]
Tanya:
Sekarang anak keduaku sudah mau 2thn2bln, dia masih belum bisa bicara, cuma bisa mama-ayah..dan uggh..ughh… Apa yang kami (orang-orang rumah) lakukan dulu ke anakku yang pertama, diterapkan juga ke anak keduaku, cuma penerimaannya di tiap anak memang beda kali ya..pas buat anak pertama tapi masih kurang stimulasinya buat anak kedua. Sejauh ini segala perintah, perkataan kita, pengenalan huruf-angka, lagu-lagu, baca-baca cerita, cara kita bicara selalu dapat respon yang baik dari anak keduaku, dia juga expressif. Meski dijawab dengan uggh..ughh..dan gerakan tangan. Kalau kita tanya anggota badan, dia tahu, demikian juga buat orang-orang terdekatnya, caranya dengan menunjuk-nunjuk. Kalau misalnya kita ucapkan kata ‘makan’ supaya anakku itu mau mengulang-ulang walau cuma kata ‘kan’ saja, anakku cuma cengir-cengir, senyum-senyum, Harapan aku sih, memorinya merekam itu semua sampai memang pada waktunya dia bicara, tapi yaa tetap saja aku khawatir. Tadinya aku pikir, dia tidak beda jauh dengan abangnya yang pas 2 tahun bicara dan perbendaharaan kata bertambah terus di usia 2-2,5thn itu. Tapi ketika aku tunggu sebulan tidak ada penambahan kata apapun dari anakku. Aku sudah bawa dia ke dsa, konsul tentang hal ini, menurut beliau sejauh ini respon dari anakku bagus hanya menunggu waktu aja, tapi beliau juga tidak melarang kami untuk membawa ke terapi wicara. Dari sharing ibu DI (dulu kan pernah dibahas, aku malah ikutan sharing Terapi,Wicara,Dan,Telat,Bicara , www.thakereen.com/vb , منتديات الذاكرين , Terapi Wicara Dan Telat Bicara ) dan aku juga sudah dapat tempat terapi wicara dari moms, ibu S dan dokternya, Aku mau coba ke terapi, ing tahu juga bagaimana buat anakku. Paling tidak kami juga jadi tahu dimana kekurangan kami dalam menstimulasinya. Moga-moga dalam waktu dekat ini anakku sudah bisa bicara ya, bu kadang aku suka kepikiran sendiri, aku yang terlalu khawatir atau biasa aja, memang belum saja waktunya bicara buat anakku? Terima kasih ya, bu [Rhm]
Jawab:
Mbak, Mungkin ada baiknya kalau sebelum ke terapi wicara, disingkirkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Soalnya adikku dulu juga telat bicaranya, dan diterapi wicara tapi tidak ada kemajuan. Ternyata, selidik punya selidik, telinganya yang bermasalah, pendengarannya agak kurang, tapi tidak sampai tuli. Jadi, memang respon kalau dipanggil atau diajak bicara ada, dan ini kalau tidak salah bisa diketahui dengan tes bera. Akhirnya baru setelah itu di terapi wicara yang memang arahnya ke anak yang pendengarannya kurang, baru deh berhasil. Kalau temenku lain lagi, anaknya juga telat bicara, ternyata anatomi lidahnya yang bermasalah. Aku gak inget persisnya, tapi akhirnya harus dioperasi, dan setelah itu memang ngomongnya bagus tuh. Aku cukup sering juga dengar cerita tentang anak-anak yang bicaranya telat, tapi begitu bisa bicara, tidak bisa berenti bicara. Yah, moga-moga memang belum waktunya saja kali ya mbak [Rn]
Aku mau sharing juga, anakku (2th 4bln) juga sempat dibawa ke Terapi Wicara selama 3 bulan (Juni – Agustus lalu). Alhamdulillah sekarang sudah cerewet sekali! Menjelang ulang tahun ke 2 (Juni lalu) aku merasa perbendaharaan katanya tidak ada kemajuan, cuma bisa bilang mamah, papah, bapa, teteh, kaka, mamam dan beberapa kata pendek lainnya dan juga ugh..ugh..sambil nunjuk-nunjuk kalau mau sesuatu. Tapi nalarnya sudah jalan, dan sudah mengerti kalau kita bicara apa. Sama dengan kamu, aku juga khawatir dan sempat konsul ke Dsa-nya katanya tunggu sampai umur 2 tahun, tapi aku tidak sabar, dan akhirnya aku bawa dia ke Klinik Terpadu Tumbuh Kembang Anak di Kramat Pela (Kebayoran) untuk diobservasi. Alhamdulillah anakku cuma telat 3 bulan dari semestinya, alias masih dalam taraf normal, cuma saja ada kecenderungan “malas” bicara. Tapi perkembangan yang lainnya sudah setara dengan anak 23 bualn. Akhirnya anakku dijadwalkan ikut terapi
wicara 2 minggu sekali, tapi dari Kebayoran aku pindah ke Tangerang yang lebih dekat dengan rumah (untung saja ada cabangnya!). Metode
belajarnya 1 guru = 1 murid, pada hari pertama masih boleh didampingi, untuk seterusnya tidak boleh. Selain terapi wicara aku ikutkan program Okupasi (belajar & bermain), untuk mengasah motorik halusnya. Di rumah juga kita harus mengulang-ulang yang sudah diajarkan di sana supaya makin lancar. Menurutku, sebaiknya ikutkan saja anak mbak ke terapi wicara, di sana kan dilatih oleh “ahlinya”, Insya Allah bisa cepat bicara seperti anakku. Soalnya kalau dari ceritamu, kasus anakmu hampir sama dengan anakku, ada unsur ‘kemalasan’nya. Setelah masuk 3 bulan, alhamdulillah anakku sudah makin pintar bicaranya, akhirnya aku stop dulu, sambil lihat perkembangannya. Alhamdulillah, semakin banyak perbendaharaan katanya dan makin bawel. Semoga bermanfaat yaa [Wwd]
Mbak, Kalau menurutku, mungkin :
1. Anak mbak beda sama kakaknya, masalah waktu saja. Coba cek kepekaannya, dia mengerti tidak intisari kata itu apa. Terus, diulang-ulang terus. Anak keduaku juga tidak secepat anak pertama mbak, tapi dia mengerti maksudnya apa. Aku terapkan ini juga, usaha
2. Kalau terapi, makin cepat makin baik. supaya cepat ke-cek ada apa, jika ada apa-apa, syukur-syukur tidak ada apa-apa. Aku belum tahap sepanik mbak. Masih bertahan untuk mencoba sendiri. Tapi terapinya harus lihat-lihat, aku tidak punya kenalan soal ini.
3. Pijit, pijit bayi, apa tradisional yang biasa balita. Kenapa, karena dibadan anak ada susunan syaraf di setiap anggota tubuhnya. Itu mengarah ke otak, otak merintah ke bagian anggota tubuh lain. Biar bagaimana juga Allah SWT sudah membuat pabrik yang paling sempurna yaitu mekanisme tubuh manusia, makanan untuk mata, pasti tersalurkan ke mata. Semoga dengan pijitan-pijitan itu bisa mempercepat proses ke arah yang kita mau.
4. Imunisasi yang meragukan buat mbak, lebih baik tunda dulu. Anakku tidak aku kasih MMR, karena aku ragu.
5. Khawatir, aku juga ngerti. Tapi bismillah-lah mbak. Kita intensifkan saja, lagu-lagu dimobil/rumah/vcd/ radio, bicara/mengoceh apa saja pakai peraga/tidak.
6. Yang sabar ya, masih lebih baik dirimu ada ibu, nah aku, ada apa-apa, berdua saja sama suamiku. Setidaknya mbak lebih bisa konsentrasi untuk ke satu titik, ke anak-anak

Jumat, 20 Mei 2011

" SAYANGILH AKU SAMPAI UJUNG WAKTU "

 

Kalau kita berbicara tentang pernikahan, pasti semua mengharapkan yang enak-enak atau kondisi ideal. Normal aja dong, kalau mengharapkan kriteria ideal untuk calon pasangan hidupnya. Sang pemuda mengharapkan calon istri yang cantik jelita, keluarganya tajir, pinter, akhlak mulia, sholehah, dll. Begitu juga sang wanita ingin punya suami yang ganteng, kaya, sabar, pinter, bertanggung jawab, setia, akhlaknya memikat, dan sebagainya. Coba bayangin semua ini terjadi pada diri kita, wuah...surga dunia tuh! Siapa sih yang gak mau, iya gak?

Saat kita lanjut usia, rambut mulai satu-persatu rontok, raga pun perlahan rapuh dan sepuh, sang istri atau suami masih tetap setia mendampingi. Saat di pembaringan, ada yang mijitin pundak hingga kitapun tertidur pulas. Saat dingin menyerang rangkulan kekasih pun semakin erat, bersama saling menopang saat kaki-kaki kita semakin melemah. Kalau sedih ada yang menghibur, saat senang, apalagi, wuah...uendah nian.

Namun, menurut Hasan Al Banna, waktu itu adalah kehidupan, ia tak pernah berhenti sesaatpun, seiring waktu berlalu, istri semakin keriput dan endut. Tapi menurut sang suami, "Istriku masih yang tercantik," sementara suami pun perutnya udah buncit, tapi menurut sang istri, "Engkaulah satu-satunya Pangeran dalam istana hatiku."

Kebesaran Allah SWT pun selalu tampak di dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga melakukan sholat berjamaah, qiyamullail, membaca Al Qur'an, tasbih, tahmid, saling bertausyiah, bermaafan, menasehati, dan mengingatkan. Inilah hasil dari sepasang anak manusia yang menikah karena ingin mengharapkan ridho-Nya dan cita-cita Islam serta kemegahan ajaran-Nya. Inilah dia surga yang disegerakan sebelum surga yang kekal abadi.

Semua diatas adalah harapan setiap pasangan. Namun, tak jarang juga ditemukan dalam suatu keluarga yang terjadi adalah sebaliknya. Dari istri yang dibilang gak pinter mengatur rumah tangga, menjaga anak, atau suami yang selalu pulang malam tak peduli dengan anak dan istri, dan macam-macam lagi. Kata nista, kata-kata yang nyelekit, tuduhan, makian bahkan saling memukul, bisa juga terjadi pada sebuah keluarga, yang gini nih sepet banget! Rumah tangga serasa bagai hidup di neraka, tak ada ketenangan apalagi kasih sayang.

Emang ya, segala sesuatu itu bisa tak seindah bayangan semula. Ada bunga-bunga indah, namun cukup banyak juga onak dan duri yang siap menghadang. Karena itu, berbagai masalah kehidupan dalam lembaga pernikahan harus dihadapi secara realistis oleh setiap pasangan.

Apalagi hidup di zaman seperti sekarang ini memang tak mudah, namun Al Qur'an memberikan arahan dalam kehidupan berumah tangga, ".... dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik.... [QS Ath Thalaaq: 6] "..... dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS An Nisaa': 19]

Seperti gading, tak ada yang tak retak, begitu juga manusia, tak ada yang sempurna. Setiap kita pasti ada kekurangannya, bisa saja seorang suami atau istri terlihat mempunyai satu kekurangan, namun kalau dipikir-pikir lebih banyak kelebihannya. Apakah kekurangannya saja yang diperhatikan oleh pasangannya atau kedua-duanya dengan pertimbangan yang adil?

Konflik dalam kehidupan rumah tangga juga tak jarang menyebabkan banyak pasangan kehilangan cinta yang dulunya mempersatukan mereka, dan Allah SWT juga telah memberikan arahan yang jelas, "Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS At Taghaabun: 14]

Karena itu, sesungguhnya dalam kehidupan berkeluarga yang kita harapkan adalah indahnya keampunan Allah dan surga-Nya, juga kasih sayang orang-orang yang terdekat dengan kita, yang setiap hari saling membutuhkan, karena itu 'sayangilah aku (pasangan hidupmu) hingga ujung waktu.'

Wahai akhi wa ukhti fillah, mari kita saling mendoakan ya,
Semoga dengan kita mengambil panduan Al Qur'an dan sunnah Rasul-Nya serta contoh teladan dari keluarga Rasulullah SAW, akan semakin banyak rumah tangga yang tadinya kurang sakinah kembali menjadi sakinah, rumah tangga yang sakinah menjadi lebih sakinah, dan insya Allah pula saudara-saudara yang belum berumah tangga dikabulkan do'anya berupa pasangan hidup yang sholeh atau sholehah, aamiin allahumma aamiin.

Wallahu alam bi showab,

EMPAL GENTONG



EMPAL GENTONG

Empal gentong adalah makanan khas masyarakat Cirebon Jawa Barat. Makanan ini mirip dengan gulai(gule) dan dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong (periuk tanah liat).

Daging yang digunakan adalah usus, babat dan daging sapi. Empal gentong berasal dari desa Battembat, kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.
Di samping menu makanan pokok orang Sunda sehari-hari (seperti nasi, pepes, karedok, sayur asem dan sambel lalab) yang sering dikonsumsi, juga banyak makanan khas daerah berupa penganan atau jenis makanan kecil/ringan yang khas lainnya, seperti dari daerah :
1. Bandung : peuyeum sampeu & ketan, borondong, ladu, burayot, ali agrem, kolontong, opak, ranginang, kiripik tempe, kiripik oncom, awug, tahu bandung.
2. Bogor : sirop pala. kiririp taleus, asinan bogor, lapis hejo.
3. Cirebon : kurupuk udang, sirop campolai, terasi, ikan asin, emping.
4. Sumedang : tahu, hui cilembu.
5. Cianjur : tauco, aneka manisan buah.
6. Sukabumi : sirop pala, kueh moci, bika ambon.
7. Kuningan : peuyeum ketan bodas.
8. Majalengka : kecap.
9. Purwakarta : simping, peuyeum gandul.
10. Subang : dodol ganas, sale ganas.
11. Garut : aneka macam dodol ketan, sale kesemek.
12. Tasikmalaya : dodol sirsak, sale cau, opak, ranginang.
13. Ciamis : minyak kelapa, galendo, kiripik cau, sale cau.

Sedangkan jenis minuman khas orang Sunda antara lain lahang, cai atah, cai teh, bandrek, bajigur, goyobod,es puter, sakoteng dan es cingcaw

empal gentong khas cirebon


Saat hari raya idul adha atau Qurban, pastinya menu utama adalah daging. Biasanya menu yang dipilih adalah sate dan gulai. Supaya tidak bosan kita coba masakan khas cirebon saja, Empal Gentong. Begini resepnya.
Bahan untuk membuat Empal Gentong :
Daging sapi potong kotak ukuran 2,5 x 2,5 cm (300 gr)
Limpa Sapi direbus lalu potong kotak ukuran 2 x 2 cm (150 gr)
Babat Sapi direbus lalu potong kotak ukuran 2 x 2 cm (150 gr)
serai di memarkan (2 batang)
daun salam (2 lembar)
air untuk merebus (1500 ml)
garam (2 sdt)
gula pasir (2 sdt)
santan dari 1/2 butir kelapa (300 ml)
minyak untuk menumis (3 sdm)
Bahan Bumbu Halus untuk Empal Gentong :
bawang putih (4 siung)
bawang merah (10 butir)
kemiri disangrai (4 butir)
kunyit di bakar ( 2 cm)
merica bubuk  (3/4 sdt)
Bahan Taburan Empal Gentong :
Bawang goreng ( 2 sdm)
kucai di potong-potong (2 tangkai)
cabai kering di tumbuk kasar ( 6 buah)
Jeruk Nipis
Kecap
Cara Membuat Empal Gentong :
1. Rebus daging sapi sampai matang. Jangan buang air kaldu, sisakan sampai sekitar 1200 ml.
2.  Tumis Bumbu yang dihaluskan.
3. Tambahkan daun salam dan serai, masak hingga harum.
4. Masukkan daging sapi, babat, dan limpa, aduk rata.
5. Tambahkan air kaldu sapi. Beri garam dan gula pasir, masak hingga mendidih.
6. Tambahkan santan, aduk sesekali agar santan tidak pecah. Masak hingga matang
7. Empal Gentong siap disajikan dengan tambahan bahan taburan, jeruk nipis dan kecap.

Tempe Bumbu Bali


Bahan Membuat Tempe Bumbu Bali :
Tempe (500 gr)
Bawang merah (6 siung)
Bawang Putih (4 siung)
Cabai Merah (6 buah)
Jahe (3 cm)
Kecap Manis (3 sdm)
garam (3/4 sdt)
gula pasir (1 sdt)
air (100 ml )
Minyak Goreng
Cara membuat Tempe Bumbu Bali :
1. Potong kotak tempe
2. Panaskan minyak dengan api sedang, goreng tempe hingga kecoklatan.
3. Setelah matang Angkat dan tiriskan
4. Haluskan cabai yang di buang bijinya, bawang merah, bawang putih jahe
5. Tumis bumbu halus hingga matang dan harum
6. Tambahkan gula, garam, kecap manis dan air, aduk.
7. Masak hingga mengental.
8. Masukkan tempe goreng, aduk rata
9. setelah bumbu meresap, matikan api dan angkat
10. Tempe Bumbu Bali siap di hidangkan.

Empal Gentong (Soto Jerohan)

Empal,Gentong,(Soto,Jerohan) , www.thakereen.com/vb , منتديات الذاكرين , Empal Gentong (Soto Jerohan) Bahan:
2 sendok makan minyak
1 sendok teh kunyit halus
1 sendok teh lengkuas parut
1 sendok teh jahe parut
1 sendok teh ketumbar halus
1/4 sendok teh jintan halus
Kayumanis, cengkeh, kapulaga sedikit
Garam secukupnya
2 batang serai memarkan
2 lembar daun salam
3 sendok kelapa parut sangrai, haluskan
500 gram jerohan sapi, rebus empuk, potong besar
2 sendok makan kucai, iris halus

Pelengkap:
Lontong/nasi
Bawang goreng

Cara membuat:
  1. Panaskan minyak.Tumis bawang, kemiri, kunyit, lengkuas, jahe, ketumbar, jintan, kayu manis, cengkeh, kapulaga, garam, serai, salam, kelapa parut.
  2. Beri 4 gelas air rebusan. Masukkan jerohan. Godok lagi sebentar. Angkat. Tiriskan.
Cara penyajian:
Jerohan disiram kuah. Tabur kucai, bawang goreng.

Selasa, 10 Mei 2011

Cinta Alam Kewajiban Manusia Beriman

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.
Semakin berkembangnya jaman dan teknologi, lingkungan adalah salah satu yang mengalami dampak buruk. Eksploitasi dilakukan secara besar-besaran, dengan tanpa memperhatikan efeknya terhadap lingkungan. Banyak hutan yang ditebangi, lalu diganti hutan-hutan beton yang menjulang tinggi. Setelah itu daerah sekitar hutan tidak mempunyai peresapan air yang cukup, dan akhirnya bencana tanah longsor dan banjir pun datang, ketika musim hujan tiba. 

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui. (QS.2:22)

Hal itulah yang sekiranya terjadi di era globalisai seperti saat ini. Di tengah sibuknya kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhanya, banyak hutan dan lingkungan lainnya yang menjadi korban dari tangan-tangan manusia. Sungguh ironis memang, banyak warga di perkotaan yang memelihara tanaman yang harganya sangat mahal, bahkan perawatannya pun juga membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Sebagai salah satu hobi mereka, atau sekedar mengisi waktu luangnya. Seandainya mereka mau mengalihkan uang yang mereka punya untuk membiayai konservasi , tentu akan sangat berguna sekali. Sebagai orang yang bijak, sudah sepantasnya kita bisa merasakan fenomena yang sedang terjadi ini. Hujan yang turun tidak menentu, banjir terjadi dimana-mana, kebakaran hutan, longsor, hingga wabah ulat bulu yang muncul hingga jutaan disekitar lingkungan hunian manusia... apa yang sebenarnya yang telah terjadi?

Disetiap terjadi bencana yang menimbulkan banyak korban, dan berbagai kerusakan  selalu kita mengatakan "SABAR YA.... INI KEHENDAK ALLAH TUHAN YANG MAHA ESA" atau "INI ADALAH PROSES ALAMI, HARAP MAKLUM..", 
yang seolah olah semua kejadian selalu Allah lah pangkal penyebabnya, dan  seolah olah Allah telah bertindak sewenang wenang dan telah berbuat sekehendak Nya sendiri, sehingga kita berkata demikian, karena memang kita sebagai manusia  ciptaan Allah yang sangat lemah, sudah seharusnya dan sepantasnya berkata  demikian, tapi benarkah, kerusakan dan kehancuran yang kita alami, kita hadapi  dan kita rasakan, benar benar hanya Allah sumber penyebabnya, mari kita sedikit  merenung dengan firman Allah SWT, dalam QS. Ar-Rum (30) ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Dari ayat diatas, dijelaskan bahwa kerusakan yang terjadi dimuka bumi ini bukan semata-mata karena Allah swt. Tapi karena ulah tangan manusia sendiri. Dan sahabat, tahukah bahwa manusia juga bukan hanya telah merusak/tidak peduli terhadap lingkungan sekitar yang telah memenuhi kebutuhan manusia, tapi juga telah merusak dirinya sendiri. Seperti rusaknya moral, politik, pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya itu semua atas perbuatan manusia sendiri, sadarkah dengan berbuat tidak jujur, berkorupsi, menyontek, berdagang dengan kayu-kayu illegal, hewan yang dilindungi kita semua telah tidak peduli terhadap masa depan sendiri, dan telah berhasil mempedulikan hasrat syetan.. hingga akhirnya semuanya kembali kepada diri kita sendiri?


Allah SWT, mengingatkan kepada kita dengan berbagai musibah agar kita sadar dan hanya menempatkan Allah SWT sebagai, Pemilik, Pemimpin, dan Maha Raja yang  tidak ada bandingan dan tidak sebanding dengan apapun serta kita dianjurkan  mengikuti petunjuk dan langkah Rasul Rasul utusan Allah serta menjauhi dan menempatkan setan Laknatulloh sebagai musuh, agar kita diakhirat nanti tidak merasakan azab Nya Allah yang sangat pedih, sebagai mana firman Allah dalam QS. An-Nahl (16) ayat 63.

تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ

Demi Allah, Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), Maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.


Untuk itu, marilah mulai saat ini, sekarang juga kita harus peduli terhadap lingkungan disekitar kita, jika telah banyak yang kita dapatkan dari lingkungan sekitar kita, maka kita juga harus menjaga agar lingkungan kita tetap terjaga dengan baik. Jangan hanya ingin mengambil buahnya saja lantas kita tidak mau menyiramnya, begitu pula dengan diri kita sendiri jangan biarkan diri kita ini rusak karena kita sendiri, jika kita menikmati sehatnya tubuh maka kita harus mau menjaga kondisi tubuh dengan baik dan jika ingin menjadi manusia yang berkualitas dihadapan Allah maka, rawat dan pedulikan diri kita terhadap sesuatu yang baik. Fungsikan semua sensor kebaikan yang ada dalam diri kita untuk alam, lingkungan, diri dan keluarga kita, agar kita menjadi manusia yang sehat, berkualitas dan indah dihadapan Allah swt. Ingatlah, Islam datang itu Rahmatallil'alamin untuk semua yang ada di dunia tidak hanya manusia saja.

وَ مَآ اَرْسَلْنكَ اِلاَّ رَحْمَةً لّلْعَالَمِيْنَ

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiyaa' : 107]

Senin, 09 Mei 2011

Berbicara dan Mendengar

Allah SWT menciptakan dua telinga dan satu mulut. Artinya, kita harus lebih banyak mendengar daripada banyak bicara..
Subhanallah! Begitu sangat berpengaruhnya kegiatan lisan kita. Seseorang yang terlihat sebagai ahli ibadah justru masuk neraka, tetapi yang beribadah "biasa" sajah tetap mendapatkan kapling syurga. Dari hadist diatas. Lisan berperan penting dalam memasukkan pemiliknya ke syurga ataukah ke neraka. Sesuatu yang logis, ketika tangan memberi tapi mulut mencaci maka sang penerima menjadi sakit hati dan dipastikan tidak jadi men-doa untuk sang pemberi sekaligus pencaci.
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قِيْلَ لِلنَّبِيّ ص: اِنَّ فُلاَنَةَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ تُؤْذِى جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. فَقَالَ: لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ فىِ النَّارِ. قِيْلِ: فَاِنَّ فُلاَنَةَ تُصَلّى اْلمَكْتُوْبَةَ وَ تَصُوْمُ رَمَضَانَ وَ تَتَصَدَّقُ بِاَثْوَارٍ مِنْ أَقِطٍ وَلاَ تُؤْذِيْ اَحَدًا بِلِسَانِهَا. قَالَ: هِيَ فِى اْلجَنَّةِ. الحاكم فى المستدرك
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Ditanyakan kepada Nabi SAW, "Sesungguhnya si Fulanah biasa puasa di siang hari dan shalat malam, tetapi dia sering menyakiti tetangga dengan lisannya. Beliau SAW bersabda, "Tidak ada kebaikan padanya, dia di neraka". Lalu ditanyakan kepada beliau, "Sesungguhnya si Fulanah hanya melakukan shalat wajib, puasa Ramadlan dan bersedeqah dengan beberapa potong keju, tetapi ia tidak mau menyakiti seorangpun dengan lisannya". Beliau SAW menjawab, "Dia di surga". (HR. Hakim)

Allah SWT menciptakan dua telinga dan satu mulut. Artinya, kita harus lebih banyak mendengar daripada banyak bicara. Mendengar harus dua kali lebih banyak, agar ucapan kita jadi lebih bermakna. Semoga Allah Yang Maha Mendengar menggolongkan kita sebagai orang-orang yang merasa didengar oleh-Nya.

Merasa didengar oleh Allah adalah keutamaan yang akan menghalangi kita dari maksiat lisan. Kata-kata kita sering menjadi dosa karena kita tidak merasa didengar oleh Allah.

As-Sami' adalah salah satu asma Allah yang berarti mendengar. As-Sami' berasal dari kata sami'a yang artinya mendengar. Jadi, Allah Maha Mendengar segala suara walaupun semut hitam yang merangkak di batu hitam di tengah belantara yang kelam.

Allah pasti mendengar apapun yang disuarakan oleh makhluk-makhluk-Nya, dalam bisikan yang paling halus maupun dalam hiruk pikuk kegaduhan. Allah pun Maha Mendengar orang yang hatinya selalu berzikir, walau di tempat tersembunyi atau di pangkalan pesawat terbang yang sangat bising. Hikmah apa yang bisa kita dapatkan dari sifat As-Sami' ini? Ada dua hikmah yang dapat kita renungkan dari sifat Allah SWT ini.

Hikmah pertama, kita harus berhati-hati dalam menjaga lisan.
Jangan bicara kecuali benar dan bermanfaat, karena setiap patah kata akan didengar oleh Allah dan harus kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak. Karena itu, kita harus selalu berpikir dan menimbang sebelum bicara. Bertanyalah selalu, pantaskah saya bicara seperti ini? Benarkah perkataan ini kalau saya ucapkan? Karena ada perkataan yang benar tapi tidak tepat situasi dan kondisinya.

Islam mengistilahkan kebenaran dalam perkataan sebagai qaulan sadiida. Apa syaratnya?

Pertama harus benar. Benar di sini mengandung arti bahwa perkataan yang kita ucapkan harus sesuai dengan realitas yang terjadi, tidak menambah-nambah ataupun mengurangkan.

Abu Mas'ud ra berkata: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Biasakanlah berkata benar, karena benar itu menuntun kepada kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke surga. Hendaklah seseorang itu selalu berkata benar dan berusaha supaya tetap benar, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang as-siddiq (amat benar) (HR. Bukhari Muslim)

Kedua, setiap kata itu ada tempat yang tepat dan setiap tempat itu ada kata yang tepat.
Di sini tepat, tapi di tempat lain belum tentu tepat. Dengan orang tua tepat, tapi dengan anak belum tentu tepat. Dengan guru tepat, tapi dengan murid belum tentu tepat. Jadi dalam berbicara itu tidak cukup benar saja, tapi harus pandai pula membaca situasi dan objek yang kita ajak bicara.

Ketiga, mengukur apakah kata-kata kita itu melukai perasaan orang atau tidak.
Hal ini cukup penting, karena perasaan dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Jika kita mengatakan satu hal pada si A dan ia tidak tersinggung, bisa jadi si B yang mendengar hal yang sama akan tersinggung.

Dan terakhir, pastikan perkataan itu bermanfaat.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya" (HR. Bukhari Muslim).

Hikmah kedua adalah kita harus belajar mendengarkan.
Mendengar belum tentu mendengarkan. Mendengar hanya sekadar menyerap suara lewat telinga. Sedang mendengarkan tidak sekadar menyerap suara, tapi juga menyimak dan mengolah apa-apa yang kita dengar. Karena itu, dengan mendengarkan kita akan faham, dan dengan faham kita bisa berubah.
Ada orang yang mendengar tapi konsentrasinya pecah, itu pun tidak bisa dikatakan mendengarkan. Mendengarkan erat kaitannya dengan keterampilan untuk fokus. Kalau kita konsentrasi, maka informasi dan ilmu akan fokus, hingga semangat kita akan menyala. Kalau semangat sudah menyala, tidak akan ada yang bisa menghalangi untuk sukses. Karenanya, dalam mendengar informasi harus fokus dan tuntas, jangan setengah-setengah. Dari itu, kita harus belajar mendengarkan, menyimak, dan memfokuskan diri untuk memahami. Dengan pemahaman yang benar insya Allah kita bisa bertindak benar dan proporsional.

Dari asma Allah SWT ini, kita bisa menyimpulkan bahwa kita harus lebih banyak mendengar daripada banyak bicara.
Mendengar harus dua kali lebih banyak, supaya sekali berkata maknanya bisa lebih besar. Karena itulah Allah SWT menciptakan dua telinga dan satu mulut. Hisap informasi sebanyak mungkin, lalu olah, dan keluarkan dengan kata-kata yang sarat makna. Banyak bicara akan banyak mengeluarkan kata-kata, hingga peluang tergelincir akan semakin besar. Bila ini terjadi maka peluang untuk celaka jadi semakin besar.

Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah SAW, "Barang siapa banyak bicara, niscaya banyak kesalahannya; barang siapa banyak kesalahannya, niscaya akan banyak dosanya; dan barang siapa banyak dosanya, maka neraka menjadi lebih utama baginya" (HR. Abu Nu'aim)
عَنْ اَبِى اُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلحَيَاءَ وَ اْلعِيَّ مِنَ اْلاِيْمَانِ وَ هُمَا يُقَرّبَانِ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُبَاعِدَانِ مِنَ النَّارِ. وَ اْلفُحْشَ وَ اْلبَذَاءَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ هُمَا يُقَرّبَانِ مِنَ النَّارِ وَ يُبَاعِدَانِ مِنَ اْلجَنَّةِ. الطبرانى فى الكبير، ضعيف، فى اسناده محمد بن محصن العكاشى
Dari Abu Umamah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Malu dan sedikit bicara itu termasuk bagian dari iman, dan keduanya itu mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka. Perbuatan keji dan kata-kata kotor itu dari syaithan, keduanya mendekatkan ke neraka dan menjauhkan dari surga". (HR Thabrani)

Semoga Allah menuntun kita menjadi orang bijak, yang banyak mendengar sedikit bicara. Wallahu a'lam bish-shawab.

Meraup Pahala Ketika Sakit

Indahnya menjadi muslim, sakitnya adalah sebagai penggugur dosa dan merubah diri melesat menjadi lebih baik..
Banyak sekali orang yang merasa kesal dan jengkel, karena sakitnya yang tiada kunjung sembuh. Segala jenis pengobatan telah dilakukan, mulai dari pengobatan medis, pengobatan tradisional (terapi) bahkan hingga ada yang datang ke dukun (orang bisa) yang dianggap sholeh/suci hingga bisa menyembuhkan. Tak jarang orang mengeluarkan puluhan juta demi kesembuhan atas penyakit yang dideritanya, sejauh apapun tempatnya dan semahal apapun pengobatannya tidak menjadi suatu masalah asal sembuh dari sakitnya.

Sadarkah anda, bahwa ternyata didunia ini kesehatan adalah sesuatu yang sangat mahal??
Maukah kaki anda ditukar dengan 1 milyar?Atau mata anda yang terkadang dikeluhkan karena sudah minus besar, ditukar dengan 1 milyar?
Terkadang kita tidak menyadari bahwa sehat adalah sesuatu rezeki yang Allah berikan kepada kita, agar kita bisa bersyukur dan memanfaatkannya untuk bisa melakukan hal-hal yang positif .
Sahabat, akankah kita menyadari bahwa, sakit yang Allah berikan adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah, yang Allah berikan kepada kita?

Sakit mendatangkan ampunan Allah
Ada orang yang diberikan sakit selama bertahun-tahun, hingga pada akhirnya orang tersebut meninggal. Mungkin kita berfikir, mengapa Allah tidak menyembuhkan orang tersebut?padahal apalah sulitnya bagi Allah swt untuk menyembuhkan seseorang dari sakitnya. 

عَنْ اُمِّ اْلعَلاَءِ رض قَالَتْ: عَادَنِى رَسُوْلُ اللهِ ص وَ اَنَا مَرِيْضَةٌ فَقَالَ: اَبْشِرِى يَا اُمَّ اْلعَلاَءِ، فَاِنَّ مَرَضَ اْلمُسْلِمِ يُذْهِبُ اللهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَثَ اْلفِضَّةِ. ابو داود
Dari Ummul ‘Alaa’ RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah menjengukku pada waktu aku sedang sakit. Beliau bersabda, “Bergembiralah wahai Ummul ‘Alaa’, karena sakitnya orang muslim itu dengannya Allah menghilangkan kesalahan-kesalahannya sebagaiman api menghilangkan kotoran-kotoran perak”. (HR. Abu Dawud)

Sahabat, bisa saja Allah berlaku demikian, namun kita tidak mengetahui apa maksud didalamnya. Bisa saja Allah memberikan sakit kepada seseorang agar terhapus dosa-dosanya di dunia, sehingga ketika ajal datang dia sudah bersih dari dosa. Sakitnya seseorang jika disikapi dengan sabar, tanpa keluh kesah maka setiap sakitnya adalah ampunan baginya. Betapa Allah sangat menyayangi kita sebagai hambaNya, sehingga sakitpun adalah penghapus bagi dosa-dosa yang kita lakukan.

Sakit meninggikan derajat penderitanya
Ketika sakit, dan kita sabar menghadapi sakit yang diderita, dan berlapang dada menerimanya, maka sungguh Allah meninggikan derajatnya. Karena kesabaran dan keikhlasan menerima sakit yang diderita, bayangkan, jika sudah sakit kemudian mencaci, kesal dan penuh amarah, maka sudah sakit tak mendapatkan apa-apa pula.
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَا ضَرَبَ عَلَى مُؤْمِنٍ عِرْقٌ قَطُّ اِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ عَنْهُ خَطِيْئَةً وَكَتَبَ لَهُ حَسَنَةً وَ رَفَعَ لَهُ دَرَجَةً. ابن ابى الدنيا و الطبرانى باسناد حسن و اللفظ له و الحاكم و قال صحيح الاسناد
Dari ‘Aisyah RA ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu penyakit mengenai orang mukmin kecuali dengannya Allah menghapus kesalahannya, mencatat kebaikan untuknya, dan mengangkat derajatnya”. (HR. Ibnu Abid Dunya, Thabrani lafadh itu baginya dan Hakim, ia berkata : Shahih sanadnya)

Sakit membuka kesadaran dan intropeksi diri
Sahabat, memang terkadang kita harus diberikan rasa sakit terlebih dahulu agar kita bisa menyadari akan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Ketika kita diuji dengan sakit gigi, baru kita sadar akan nikmatnya memiliki sebuah gigi, bayangkan jika kita mengalami sakit gigi pada keseluruhan gigi yang kita miliki, apa yang bisa kita lakukan?Satu saja sudah membuat kita kerepotan, apalagi jika yang sakit semua gigi. 

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS.42 : 30)

Namun secara sadar ataupun tidak sadar, kita sendiri yang memberikan saham badan kita menjadi sakit. Sakit menyadarkan diri akan nikmat yang telah Allah berikan. Ketika sakit datang pula, bibir ini terucap istigfar, karena menyadari bahwa terlalu banyak dosa yang telah dilakukan dibanding kebaikan yang telah dilakukan, hingga timbul rasa takut maut akan menjemput, mulailah diri mengintropeksi kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Dengan sakit membuat diri berintropeksi dengan kesalahan yang telah diperbuat.

Meraup pahala ketika sakit
Sakit tak menghalangi kita untuk beribadah, Allah memberikan rukhsah (keringanan) kepada orang yang sakit, seperti ketika shalat, berhaji dsb. Tapi semua ibadah itu tetap bisa dilakukan, namun ada yang istimewa ketika sakit. Yaitu buah dari kesabaran dalam menjalani rasa sakit yaitu pahala yang sangat besar yang menanti. Namun, tentu saja kita harus berusaha untuk sembuh, dengan berobat mengkonsumsi makanan yang sehat dan lain sebagainya. Jika sudah berusaha untuk mengobati sakit yang diderita namun belum sembuh juga, maka setiap sakit yang dirasakan itu adalah penggugur dosa, dan ditengah sakit itu tetap melakukan ibadah-ibadah, ibadah tersenyum, ibadah kesabaran, ibadah mensyukuri nikmat dan lain sebagainya.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رض اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لاَ يَمْرَضُ مُؤْمِنٌ وَ لاَ مُؤْمِنَةٌ وَ لاَ مُسْلِمٌ وَ لاَ مُسْلِمَةٌ اِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ خَطِيْئَتَهُ. و فِى رواية اِلاَّ حَطَّ اللهُ عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ. احمد و البزار و ابو يعلى
Dari Jabir bin Abdullah RA, bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sakit orang mukmin maupun mukminah, muslim maupun muslimah, kecuali dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahannya”. Dan dalam satu riwayat, “Kecuali Allah menghapus kesalahan-kesalahan darinya”. (HR. Ahmad, Al-Bazzar dan Abu Ya’la)

Maka ketika sakit datang pada diri kita, bersabar dan berpositif thinking, serta jadikan ini sebagai lading untuk beribadah agar dapat meraup pahala ketika sakit. Wallahu a’lam bishawab.

Sudahkah Anda Siap Menikah?

Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
Dalam karir, mungkin anda telah mampu mewujudkan impian. Dalam hal jodoh, mungkin anda pun telah mendapat seorang wanita yang tulus mencintai. Bahkan, ternyata dia pun mengharap cinta yang tulus serta kemesraan yang abadi dari anda sebagaimana diharapkan. Bahkan, apa yang menjadi angan-angan dalam hidupnya, ingin segera terealisasi. Jika anda dan pasangan tidak menyadari dan melihat kembali realita yang ada pada diri masing-masing, niscaya pernikahan tidak akan dapat mewujudkan apa yang menjadi harapan, cita-cita dan impian bersama.

Barangkali anda punya obsesi dan harapan secara berlebihan tentang calon pendamping hidup. Mendapatkan seorang wanita yang cerdas, terampil, cantik dan cekatan. Ketika anda pulang dari bekerja, ia mampu menjadi pelepas lelah dan penghilang penatnya beban kerja. Lalu anda menerima berbagai macam persembahan cinta yang menggairahkan. Atau, terkadang seorang lelaki terlalu percaya dapat menemukan calon pasangan yang sabar, jujur dan amanah, serta mau mendengar dan mengikuti segala perrintah. Namun yang terjadi, setelah pernikahan, semua angan-angan, harapan, dan impian itu tidak kunjung ditemukan, bahkan sebaliknya, justru kenyataan pahit yang didapatkan.

Kondisi ekstrim yang membuat perasaan anda gundah dan gelisah bisa saja muncul paska pernikahan, sehingga perkawinan pun diliputi dengan penyesalan. Sehingga anda pun menjadi bimbang. Apakah rumah tangga diteruskan? Atau terpaksa harus menempuh jalan perceraian, dengan harapan bisa menemukan impian dan harapan pada wanita lain.

Pada hakikatnya, dengan pernikahan semata, tidak mungkin mengarahkan kita pada kebahagiaan. Karena ukuran kebahagiaan sangat ditentukan oleh masing-masing pasangan. Keberhasilan dan suksesnya mengendalikan bahtera rumah tangga, semuanya kembali kepada kesiapan anda dalam berrkoordinasi dengan pasangan saling melengkapi, dan kesiagaan dalam menghadapi problematika rumah tangga seekstrim apapun!

Sesungguhnya, kesuksesan perrnikahan anda juga sangat dipengaruhi oleh gambaran realistis terhadap konsekwensi pernikahan. Gambaran keberhasilan atau kegagalan, kebahagiaan atau kepedihan pernikahan kedua orang tua yang anda alami sejak kecil, akan mampu memberi gambaran kuat tentang pernikahan, maka, harapan atau ketakutan akan pernikahan pun terbangun. Jika anda berasal dari keluarga bahagia, maka motivasi positif akan tertanam kuat dalam benak anda. Namun, jika anda berasal dari produk pernikahan gagal/ broken home, maka sebaiknya anda jangan terlalu menggebu-gebu menikah. Anda terlebih dahulu harus merubah obsesi dan persepsi tentang pernikahan, lalu berusaha menimba pengalaman dari orang-orang yang sukses berumah tangga, kemudian belajar dari mereka yang berhasil mengatasi problema hidup. Sehingga anda pun akan optimis dan selalu berpikir positif pada setiap kasus yang akan dihadapi.

Jika menikah hanya untuk mendapatkan status, popularitas, kedudukan atau meraih posisi penting di masyarakat, atau hanya karena fanatis daerah, atau hanya untuk memenuhi kebutuhan seksual semata, ini hanyalah merupakan sikap mandul yang menghasilkan kegagalan dan kekecewaan.

Aspek seksual akan dapat mendorong terwujudnya cinta. Dan cinta itu sendiri tidak akan langgeng tanpa terpenuhinya kebutuhan biologis. Namun aspek seksual semata tidaklah dapat memuaskan kita dan menghantarkan kepada kebahagiaan yang sejati. Lebih tepatnya, pemenuhan kebutuhan seksual hanya merupakan pil penenang sesaat yang bisa membawa kepada kondisi yang lebih rilek bagi batin dan pikiran.

Terlepas dari aspek seksual, motivasi yang lebih utama untuk menikah adalah mencari kepuasaan batin dan stabilitas mental. Karena kepuasaan batin dan stabilitas mental menjadi generator utama dan sarana paling menonjol untuk mewujudkan semua harapan, bahkan sebagai pendorong utama melangkah ke jenjang pernikahan. Di samping itu, faktor ibadah juga merupakan niat dasar yang tidak boleh dilupakan.

Sesungguhnya, obsesi dan pandangan yang salah, serta landasan yang labil akan membuat pernikahan tidak bertahan lama. Karena sang suami tidak mungkin bisa merubah isterinya menjadi sosok lain, dan begitu pula isteri, tidak akan bisa membuat suaminya menjadi orang lain.

Suami yang menggantungkan ketenangan dan kepercayaan dirinya pada isterinya, maka akan merasa lemah tatkala cinta sang isteri memudar atau tatkala kepercayaannya kepadanya berkurang. Maka pada saat itu ia akan hancur atau berusaha mencari ketenangan dan kepercayaan dari sumber lain.

Begitu pula perempuan. Tidak boleh menikah dengan lelaki karena ingin memperbaiki watak, perilaku dan tabiat lelaki. Karena bagaimanapun seseorang telah terbiasa dengan tabiat dan watak dasarnya. Bahkan keaslian jati dirinya tidak gampang hilang dan akan segera muncul ke permukaan kapan saja.

Langkah Awal Menentukan Pilihan

Maka, bagi anda wahai calon suami. Sebelum melenggang pada pelaminan pernikahan, hendaknya memperhatikan beberapa nasehat berikut ini:

1. Jika anda menginginkan sesuatu, maka hendaklah anda istikharah dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memilihkan apa yang terbaik bagi anda. Terdapat teladan dalam diri Rasulullah sholallahu 'alahi wassalam, bagaimana beliau ber istikharah dan beliau telah menasehatkan hal itu kepada para shahabatnya. Istikharah tidak hanya untuk menikah yang memang memiliki nilai kebaikan, bahkan istikharah bisa untuk semua perkara kebaikan, diantaranya ketika ingin memilih calon pasangan baik suami atau isteri. Apa yang akan diperbuat dan langkah apa yang akan ditempuh, maka sebaiknya minta kepastian melalui shalat istikharah.

2.  Meminta pendapat dan pengarahan dari orang yang dikenal kelimuan dan amanahnya, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: dalam surat Ali Imran : 159, yang artinya: "...dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah...". Meminta pendapat dan pengarahan kepada orang lain bukanlah suatu aib atau menjatuhkan harga diri dan martabat, bahkan akan terbuka jalan keluar dan perkara-perkara yang tidak diketahui. Dan ini adalah ciri khas para ulama, dengan inilah mereka menjadi terkenal dengan pendapatnya. Ahli hikmah berkata: "Jika Allah menginginkan kebinasaan buat seorang hamba, Ia akan membinasakannya dengan pendapatnya" dikatakan pula, "Memegang teguh musyawarah berarti kesuksesan". Dikatakan pula, "Jika anda meminta pendapat seseorang berarti anda telah ikut serta dalam otak mereka". Hendaklah anda selalu menjadikan musyawarah dan istikharah sebagai bagian hidupmu agar rencanamu tercapai dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah dan tidak akan sia-sia orang yang beristikharah. "Dikatakan: "Tidak akan sia-sia orang yang beristikharah kepada penciptanya dan bermusyawarah dengan Mahluk-Nya".

3. Jangan melupakan aspek doa, karena doa merupakan sarana terbaik yang selalu harus berdampinngan dengan istikharah dan musyawarah.
Usahakan selalu mengulangi dalam berdoa, karena doa adalah ibadah yang paling agung. Ini berdasarkan sabda Rasulullah sholallahu 'alahi wassalam : "Doa adalah ibadah"

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرّيـَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Furqaan : 74]

Sabtu, 30 April 2011

" CURAHAN HATIKU PADAMU YA ALLAH "

 

Kucintai Engkau dengan dua cinta. Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. Cinta karena diriku membuat diriku lupa pada yang lain, senantiasa menyebut nama-Mu. Cinta karena diri-Mu membuat diriku selalu memandang-Mu, karena Kau kuakkan hijab, Tiada puji bagiku untuk ini dan itu, Bagi-Mulah puji dari penghuni semesta.

Ya Allah, Engkau Tuhan yang disembah..!
Kuatkanlah imanku dalam keadaan apapun. Dan janganlah Kau bolak-balikkan hatiku setelah Kau berikan hidayah-Mu.

Ya Ghaffar, Engkau Maha Pengampun...!
Aku hanya mampu mengungkapkan secuil risalah-Mu. Namun, belum mampu mencegah kemaksiatan. Belum mampu menyentuh hati yang keruh.

Ya Hafizh, Engkaulah Maha Memelihara...!
Lindungilah aku dari kehancuran moral dan mendustakan agama-Mu. Jangan jauhkan aku dari Ramadhan-Mu. Karena disanalah kutemukan muara tangisan umat-Mu. Jangan jauhkan aku dari si lapar dan si miskin. Karena di sanalah ku menemukan-Mu.

Ya Akbar, Engkaulah Yang Maha Besar...!
Betapa kecilnya diriku dibandingkan kebesaran-Mu. Aku tak mampu melihat kebesaran-Mu dengan mata kepala. Bukalah pintu hatiku agar ada ruang bagi kebesaran-Mu. Bukalah pintu hatiku agar aku dapat melihat rahmat-Mu

Ya Razzaq, Engkaulah pemberi rezeki...!
Niat telah kuikrarkan, Usaha telah kulakukan, Tenaga telah kukerahkan, aku tak berharap kepada siapapun, Hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan. Bukalah pintu rezekiku.

Ya Ghani, Engkau Tuhan Yang Maha Kaya...!
Ada orang miskin tak bisa makan enak karena tak ada makanan, Tapi tak sedikit orang kaya yang tak merasakan kelezatan makanan karena sakit.

Ya Hakim, Engkaulah Yang Maha Bijaksana...!
Aku ingin menjadi orang yang bijaksana. Aku ingin menjadi orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ya Alim, Engkaulah Tuhan Yang Maha Mengetahui...!
Berilah aku hikmah agar mampu melihat kebaikan-Mu. Berilah aku hikmah agar mampu menyelami tangisan dan impian saudara kami.

Ya Jabbar, Engkau Yang Maha Kuasa...!
Kepunyaan-Mulah apa yang ada di langit dan di bumi. Jangan putuskan harapanku untuk menanti nikmat-Mu ditengah kesusahan hidupku ini.

Ya Qawi, Engkaulah Zat Yang Maha Kuat...!
Tanamkan kekuatan-kekuatan dalam hatiku. Agar aku tak menyerah pada kesulitan hidup. Agar aku mampu istiqomah dalam keyakinanku.

Ya Matin, Engkaulah Zat Yang Maha Kukuh...!
Tanamkanlah kepercayaan diri dalam jiwaku. Agar aku tak merasa rendah dimata orang lain.

Ya Wasi, Engkaulah Yang Maha Luas...!
Ketika aku memberi kepada orang lain, sungguh menambah pahala bagiku. Ketika aku membantu orang lain, sungguh menambah kecintaan orang lain kepadaku.

Ya Qadir, Engkaulah Yang Maha Menentukan...!
Segala pikiran telah kucurahkan. Segala ikhtiar telah kulakukan. Suara hati telah kudengarkan. Sekarang tetapkanlah KETENTUAN-MU.

Duhai Al-Amin...
Allah Swt dan malaikat-malaikat bershalawat kepadamu. Shalawat kebajikan atas Al-Amin, semoga orang yang bershalawat kepadanya selalu diberkahi. Amin...
Aku berdiri dalam tangisan diambang senja. Yang aku tahu kematian telah dekat. Namun, adakah surga akan mempertemukan aku dengannya???

" KASIH TK SAMPAI "

 

Sahabatku rahimakumullah...
Sebagaimana Ia (Allah) menghadirkanmu ke dunia ini dengan rasa cinta, melalui perantara seorang ummi yang penuh kasih, karena itulah...rasa yang begitu kuat terpatri di Qalbumu adalah rasa cinta (ingin dicinta dan mencinta)...

Kita tumbuh laksana tunas pohon kecil yang mengeluarkan dedaunannya dan ketika kuncupnya menyembul... Bersama itu pula timbul hasrat dihatimu untuk mencari pasangan hidup, teman berbagi suka duka di alam ini..

Cinta merupakan karunia Ilahi.., hadirnya tanpa diundang..., tiba-tiba kita sadari ia kuat tertanam laksana akar pohon yang rindang

Sahabatku rahimakumullah
Kurasakan getar Qalbumu manakala kau bercerita penuh harap kepadanya. Ia laksana kilau permata yang penuh cahya dimatamu Mencintainya ibarat kuncup bunga di Qalbumu Yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat Namun ternyata Jangankan mekar yang kau dapat Kuncup itu layu sebelum berkembang Manakala kau sadari Dia tak pernah mencintaimu!, tak pernah menaruh hati padamu!!, tak pernah menginginkanmu!!! Tak pernah !!!

Kekecewaanmu kau tumpahkan dalam sebuah syair lagu (walau hanya kau yang tahu...) Lirih perlahan mengalun
-------
"Kau bagaikan telaga yang jernih
Yang sejuk airnya serta menyegarkan
Ditumbuhi pepohonan rindang Disekelilingmu
Kau sadari akan seseorang
Yang mencintaimu Setulus hatinya
Dan kau beri satu pengertian
tentang sebuah cinta yang tak kesampaian

Kau hargai satu cinta kasih
Kau buktikan tanpa menghinanya
Walau seringkali kau acuhkan dia yang menyayangimu
Kau berarti baginya Kharisma didirimu Dambaan hatinya"
-------

Aduhai gerangan sungguh beruntung yang mendapatkan cintamu Dan ketika kau kutanya kenapa? Dengan ungkapan pilu engkaupun berkata:

"Entahlah Akupun tidak tahu. Namun yang terpenting Dari sekian banyak manusia, dari sekian banyak insan dunia Bagiku...Dialah yang terindah...terbaik..., dan paling mempesona...!" Pancarannya begitu tajam menghunjam!! Sungguh tak 'kan ada yang bisa menggantikannya Walau dicari di belahan bumi manapun, tetaplah dia orangnya!!!

Aduhai...gerangan...perih nian yang kau rasa... Kalau begitu baiklah... Kan kuajak dirimu terbang ke sebuah tempat yang bernama "Negeri kesunyian" Kenapa ??? Karna engkau butuh kesendirian untuk mengobati luka hatimu...

Kita tlah sampai... Tak ada seorangpun yang akan mendengar perbincangan kita... (Listen to me please!!! Dengarkanlah aku baik-baik sahabatku...!!!)

Sahabat... Tahukah engkau? Manakala engkau telah merasa mencintai seseorang... Itu sama artinya engkau t'lah menghamba padanya?...

Sadarkah dirimu? Manakala engkau tahu ia tidak mencintaimu ... Itu artinya ia menunjuk pada kekuranganmu?...

Tidak terfikirkah olehmu? Jika yang kau harap saja tidak bisa mencintaimu... Apalagi Yang Menciptakannya???!!!...

Astafirughlaahul 'aziim...
Astafirughlaahul 'aziim...
Astafirughlaahul 'aziim...
(Ucapmu seraya menjerit tertahan... titik-titik embun menggenang di kelopak matamu...mengalir perlahan...membasahi pipi...) Mengangislah...kalau itu yang membuat hatimu tenang...

Sahabat... Aku bersyukur kepada Allah kau sadari kini kekhilafanmu... Bahwa ter-amat sulit untuk menggapai Cinta_Nya bisa engkau pelajari dari makhluk_Nya yang bernama manusia... Karena itu...Perbaikilah segala sesuatu yang ada padamu... Bangkitlah untuk menjadi yang terbaik...

Sahabat... Sesungguhnya yang ada padamu sudah ter-amat sempurna... Rupa wajahmu adalah yang terindah yang kau miliki... Namun?sinarannya belum terlihat... Masih pudar dan perlu dibersihkan... Dimana letaknya tersimpan di dasar yang paling dalam... Sulit terjangkau?Itulah Qalbu (hati) mu... Jika sinarnya telah mendekati kesempurnaan... Kilaunya akan memancar ke luar... Itulah namanya kecantikan/ ketampanan hakiki...

Sesungguhnya... Seseorang mencintaimu tidaklah melihat dari kecantikan (ketampanan) atau kekayaanmu... Tetapi ia melihat pancaran yang ada pada Qalbumu... Kenapa? Karena kecantikan/ ketampanan akan sirna bersama berlalunya waktu... Kekayaan akan lesap bersama perputaran roda kehidupan... Sedangkan pancaran Qalbu akan senantiasa abadi bersama ridha Ilahi kepadamu...

Namun satu hal yang harus kau ingat! Tak selamanya cinta itu berati memiliki... Ibarat Qalbumu...yang bebas bergerak tanpa bisa kau cegah... Kenapa? Karena ia hidup sebagaimana arus air yang mengalir... Engkau saja tak dapat memiliki hatimu, apalagi kepunyaan orang lain? Yang berhak memilikinya adalah Allah...

Wahai sahabat... Bukankah sesuatu yang kau sulit mendapatkannya sulit pula kau lepaskan? Demikianlah seseorang itu di hatimu... Bukankah Kasih tak sampai benteng dirimu untuk senantiasa menjaga kesucianmu? Terutama Qalbumu...(Yang senantiasa wajib kau jaga kesuciannya)..(Silahkan buka kembali lembaran artikel "Kekasih Sejati" dan "Kemana Akan Dicari Gantinya???" di bawah ini).

Karena itulah... "Kasih Tak Sampai" merupakan cermin bagimu ... untuk mengerti arti Cinta Sejati yang sesungguhnya...

Sesungguhnya Cinta dijadikan Allah indah di dalam Qalbumu... Keindahannya akan kau temukan manakala kau dapatkan hatimu mencintai Allah... Tak ada makhluk yang sempurna di muka bumi ini kecuali diri_Nya...

Karena itu... Laa tahzaan wa laa takhaaf (Janganlah sedih dan janganlah takut...) Innallaaha ma'ana (Sesungguhnya Allah bersama kamu...) Betapa dengan sayang_Nya Ia berkata:

"Thayyibaa tu litthayyibiina watthayyibuuna litthayyibaati" Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An Nur 24:26)

Wallaziina aamanuu asyaddu hubban-lillah Orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. (QS. Al Baqarah 2:165)

Yuhibbuhum wa yuribbuu nahuu Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka mencintai_Nya. (QS. Al Maidah 5:54)

" SAYANGILH AKU SAMPAI UJUNG WAKTU "

 

Kalau kita berbicara tentang pernikahan, pasti semua mengharapkan yang enak-enak atau kondisi ideal. Normal aja dong, kalau mengharapkan kriteria ideal untuk calon pasangan hidupnya. Sang pemuda mengharapkan calon istri yang cantik jelita, keluarganya tajir, pinter, akhlak mulia, sholehah, dll. Begitu juga sang wanita ingin punya suami yang ganteng, kaya, sabar, pinter, bertanggung jawab, setia, akhlaknya memikat, dan sebagainya. Coba bayangin semua ini terjadi pada diri kita, wuah...surga dunia tuh! Siapa sih yang gak mau, iya gak?

Saat kita lanjut usia, rambut mulai satu-persatu rontok, raga pun perlahan rapuh dan sepuh, sang istri atau suami masih tetap setia mendampingi. Saat di pembaringan, ada yang mijitin pundak hingga kitapun tertidur pulas. Saat dingin menyerang rangkulan kekasih pun semakin erat, bersama saling menopang saat kaki-kaki kita semakin melemah. Kalau sedih ada yang menghibur, saat senang, apalagi, wuah...uendah nian.

Namun, menurut Hasan Al Banna, waktu itu adalah kehidupan, ia tak pernah berhenti sesaatpun, seiring waktu berlalu, istri semakin keriput dan endut. Tapi menurut sang suami, "Istriku masih yang tercantik," sementara suami pun perutnya udah buncit, tapi menurut sang istri, "Engkaulah satu-satunya Pangeran dalam istana hatiku."

Kebesaran Allah SWT pun selalu tampak di dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga melakukan sholat berjamaah, qiyamullail, membaca Al Qur'an, tasbih, tahmid, saling bertausyiah, bermaafan, menasehati, dan mengingatkan. Inilah hasil dari sepasang anak manusia yang menikah karena ingin mengharapkan ridho-Nya dan cita-cita Islam serta kemegahan ajaran-Nya. Inilah dia surga yang disegerakan sebelum surga yang kekal abadi.

Semua diatas adalah harapan setiap pasangan. Namun, tak jarang juga ditemukan dalam suatu keluarga yang terjadi adalah sebaliknya. Dari istri yang dibilang gak pinter mengatur rumah tangga, menjaga anak, atau suami yang selalu pulang malam tak peduli dengan anak dan istri, dan macam-macam lagi. Kata nista, kata-kata yang nyelekit, tuduhan, makian bahkan saling memukul, bisa juga terjadi pada sebuah keluarga, yang gini nih sepet banget! Rumah tangga serasa bagai hidup di neraka, tak ada ketenangan apalagi kasih sayang.

Emang ya, segala sesuatu itu bisa tak seindah bayangan semula. Ada bunga-bunga indah, namun cukup banyak juga onak dan duri yang siap menghadang. Karena itu, berbagai masalah kehidupan dalam lembaga pernikahan harus dihadapi secara realistis oleh setiap pasangan.

Apalagi hidup di zaman seperti sekarang ini memang tak mudah, namun Al Qur'an memberikan arahan dalam kehidupan berumah tangga, ".... dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik.... [QS Ath Thalaaq: 6] "..... dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS An Nisaa': 19]

Seperti gading, tak ada yang tak retak, begitu juga manusia, tak ada yang sempurna. Setiap kita pasti ada kekurangannya, bisa saja seorang suami atau istri terlihat mempunyai satu kekurangan, namun kalau dipikir-pikir lebih banyak kelebihannya. Apakah kekurangannya saja yang diperhatikan oleh pasangannya atau kedua-duanya dengan pertimbangan yang adil?

Konflik dalam kehidupan rumah tangga juga tak jarang menyebabkan banyak pasangan kehilangan cinta yang dulunya mempersatukan mereka, dan Allah SWT juga telah memberikan arahan yang jelas, "Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS At Taghaabun: 14]

Karena itu, sesungguhnya dalam kehidupan berkeluarga yang kita harapkan adalah indahnya keampunan Allah dan surga-Nya, juga kasih sayang orang-orang yang terdekat dengan kita, yang setiap hari saling membutuhkan, karena itu 'sayangilah aku (pasangan hidupmu) hingga ujung waktu.'

Wahai akhi wa ukhti fillah, mari kita saling mendoakan ya,
Semoga dengan kita mengambil panduan Al Qur'an dan sunnah Rasul-Nya serta contoh teladan dari keluarga Rasulullah SAW, akan semakin banyak rumah tangga yang tadinya kurang sakinah kembali menjadi sakinah, rumah tangga yang sakinah menjadi lebih sakinah, dan insya Allah pula saudara-saudara yang belum berumah tangga dikabulkan do'anya berupa pasangan hidup yang sholeh atau sholehah, aamiin allahumma aamiin.

Wallahu alam bi showab,